|
Sebab Punahnya Tanaman Obat Tradisional |
|
|
|
|
Written by sartika
|
|
Monday, 31 October 2011 16:22 |
|
Jakarta, Diketahui ada banyak tanaman obat tradisional yang berkhasiat. Tapi sayangnya beberapa kondisi menyebabkan tanaman obat ini keberadaannya terancam punah. Apa saja penyebabnya?
"Saat ini ada beberapa tanaman obat yang hampir terancam punah sehingga harus dilindungi," ujar Kepala Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Indah Yuniprapti dalam acara press briefing di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/10/2011).
Indah menuturkan untuk di Indonesia sebab utamanya karena adanya alih fungsi dari lahan terutama di hutan seperti akibat penebangan liar. Hal ini karena ada tumbuhan yang butuh lindungan dari pohon besar.
Meski begitu ada pula beberapa penyebab lainnya yaitu:
- Adanya alih fungsi hutan menjadi rumah tinggal
- Adanya bencana seperti kebakaran hutan atau banjir
- Adanya pemanenan yang sangat maksa tanpa diiringi dengan penanaman kembali
- Adanya global warming dan juga ekosistem yang tidak seimbang
"Penyebab lainnya ada juga tanaman yang sulit dibudidayakan atau susah ditanam di tempat lain (tanaman insitu)," ujar Indah.
Indah memberikan contoh beberapa tanaman di Indonesia yang hampir terancam punah seperti tanaman purwaceng yang tinggi permintaan tapi tidak ditanam lagi padahal tumbuhan ini butuh waktu setahun untuk tumbuh dan perawatan lainnya. Serta tanaman pasak bumi yang permintaannya tinggi dan tanaman ini dibutuhkan akarnya sehingga biasanya dicabut semuanya.
"Untuk itu diperlukan adanya riset tanaman obat dan inventaris untuk mengidentifikasi formula zat aktif dan finger printing agar tidak punah," ujar Kepala Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinis Kemenkes dr Siswanto.
dr Siswanto menuturkan penggunaan tanaman obat dan obat tradisional ini akan banyak membantu dalam mengatasi dan mencegah terjadinya penyakit tidak menular serta diharapkan bisa selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lain.
sumber : detik.com |
|
Last Updated on Friday, 25 May 2012 21:41 |
|
Puskesmas Jamu Sudah Ada di 70 Desa Jateng |
|
|
|
|
Written by sartika
|
|
Monday, 31 October 2011 16:20 |
|
Jakarta, Keragaman hayati di Indonesia menempati urutan ke-2 setelah Brazil, sehingga wajar jika ingin menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Sebagai langkah awal, 70 Puskesmas di Jawa Tengah telah menghadirkan layanan jamu sebagai pendamping obat moderen.
Sejak beberapa waktu yang lalu, ke-70 Puskesmas tersebut telah dijadikan sentra uji Puskesmas yang terintegrasi. Artinya selain memberikan layanan kesehatan dengan obat moderen, Puskesmas tersebut juga melayani warga yang ingin menggunakan jamu.
"Tentunya jamu yang sudah evidence based (teruji secara ilmiah). Kalau dulu untuk diare pakai 3 lembar daun jambu, itu kan daunnya macam-macam ada yang lebar ada yang enggak. Di sini kita pakainya bukan berapa lembar tetapi berapa miligram," ungkap Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Dr dr Slamet Riyadi Yuwono usai Temu Karya dengan 407 Kepala Desa dan Lurah Pemenang Lomba Desa Tingkat Nasional 2011 di Gedung Kemenkes Jakarta, Selasa (17/8/2011).
Keberadaan Puskesmas Jamu sepertinya akan direspons positif, sebab data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan 55,3 persen penduduk Indonesia pernah mengonsumsi jamu. Dari angka tersebut 95,6 persen mengaku puas dan merasakan manfaatnya.
Tak hanya di 70 desa saja, ke depan keberadaan Puskesmas Jamu akan terus diperluas. Tahun ini saja, Kementerian Kesehatan menargetkan 100 dari 497 atau 20 persen kabupaten/kota se-Indonesia sudah punya Puskesmas yang terintegrasi dengan layanan jamu.
Jika puskesmas terintegrasi ini benar-benar direspons positif, selanjutnya Kemenkes akan mewujudkan Puskesmas Khusus Jamu yang terpisah dari Puskesmas reguler. Model ini meniru beberapa rumah sakit di China, yang sudah mengkhususkan layanannya pada pengobatan berbasis herbal atau obat tradisional.
Sementara itu Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer, dr Abidinsyah Siregar mengatakan keberadaan jamu di Puskesmas merupakan bentuk pelayanan prventif atau pencegahan. Jamu lebih ditujukan untuk menjaga kesehatan, sedangkan obat-obat modern dipakai untuk orang yang sudah sakit.
"Orang sakit itu jumlahnya hanya sekitar 3 persen dari populasi penduduk. Nah sisanya yang 97 persen kan tidak butuh obat, makanya kita sediakan jamu biar tetap sehat," ungkap dr Abidinsyah.
sumber : detik.com |
|
Last Updated on Friday, 25 May 2012 21:39 |
|
|
Sudah Ada 14 Rumah Sakit di Indonesia yang Meresepkan Jamu |
|
|
|
|
Written by sartika
|
|
Monday, 31 October 2011 16:18 |
|
Jakarta, Penggunaan obat-obatan tradisional akan semakin digalakkan. Apalagi riset menunjukkan separo penduduk Indonesia gemar minum jamu. Bahkan saat ini sudah terdapat 14 rumah sakit di Indonesia dan 30 Puskesmas di Jawa Tengah (Jateng) yang menggunakan jamu sebagai obat resmi.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam pembukaan 'The 3rd Conference on Traditional Medicine in ASEAN Countries' yang digelar di The Sunan Hotel Solo, Senin (31/10/2011).
Menkes mengatakan penggunaan obat tradisional hingga saat ini masih sangat tinggi. Bahkan 80 persen penduduk di Afrika masih tergantung obat tradisional. Sedangkan riset di Indonesia menunjukkan 49,53 persen penduduk di atas usia 15 tahun rutin mengonsumsi jamu. Dari angka itu 4,36 persen mengonsumsi jamu setiap hari.
Kepercayaan konsumen itu harus dijadikan sebagai tantangan ke depan dalam meningkatkan produksi obat-obatam tradisional aman, efektif, berkualitas untuk pemanfataan pelayanan kesehatan.
Saat ini, lanjutnya, terdapat tidak kurang dari 280 ribu praktisi pengobatan tradisional di Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah pelayanan kesehatan tradisional seringkali kurang didukung oleh penelitian ilmiah. Ini berbeda dengan sistem pelayanan kesehatan moderen didukung pengetahuan yang jelas dan metodologi penelitian.
"Pemerintah Indonesia berkomitmen mengembangkan obat tradisional, khususnya jamu buatan Indonesia. Untuk mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional, sejumlah kerangka regulasi telah diterbitkan, dari tingkat UU hingga keputusan menteri," ujar Menkes.
Menkes juga mengatakan saat ini departemen yang dipimpinnya sedang melakukan penelitian ilmiah di Tawangmangu Jateng untuk menemukan obat dengan bahan-bahan tradisional untuk empat penyakit yaitu gula darah, lemak darah, tekanan darah dan asam urat.
"Untuk saat ini baru empat penyakit itu yang dicarikan obatnya, ke depan akan dikembangkan untuk penyakit-penyakit lainnya. Selain itu saat ini sudah terdapat di 14 rumah sakit di Indonesia 30 Puskesmas di Jawa Tengah yang menggunakan obat tradisional sebagai obat resmi. Ke depan akan semakin banyak lagi," ungkapnya.
sumber : detik.com |
|
Last Updated on Thursday, 10 May 2012 08:49 |
|
Jamu Tak Bikin Ginjal Rusak, Asal.. |
|
|
|
|
Written by sartika
|
|
Tuesday, 21 June 2011 14:03 |
|
Jakarta, Minum jamu sering menjadi pilihan masyarakat karena dianggap lebih murah dan tanpa efek samping, meski belakangan muncul tudingan bahwa jamu berbahaya bagi ginjal. Namun, ahli herbal menyatakan jamu tidak berbahaya untuk ginjal asalkan tahu syaratnya.
Jamu atau herbal sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dulu. Nenek moyang kita telah menggunakan berbagai ramuan jamu untuk mengobati banyak penyakit.
Namun, seiring dengan berkembangnya kedokteran modern, fungsi jamu semakin tergantikan dengan kehadiran obat-obat kimia yang khasiatnya sudah teruji secara praklinis (pada hewan percobaan) dan klinis (pada manusia). Bahkan, beberapa jamu dituding dapat menyebabkan efek samping merusak ginjal.
"Secara umum herbal tidak ada efek sampingnya, kecuali untuk beberapa kasus dimana obat herbal dicampur dengan obat sintetis kadang-kadang ada efek sampingnya," ujar Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Apt, Wakil Ketua Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi, FMIPA Universitas Indonesia disela-sela acara Media Workshop 'Inovasi Teknologi Ekstraksi Bahan Alami Menghasilkan Obat Batuk Herbal yang Efektif' di Kembang Goela Resto, Plaza Sentral, Jakarta, Kamis (16/6/2011).
Menurut Prof Sumali, jamu atau herbal yang dituding berbahaya dan dapat merusak ginjal atau hati adalah karena jamu tersebut tidak memenuhi syarat.
"Bisa jadi ada herbal yang dicampur dengan obat sintetis. Itu yang tidak aman. Tapi kalau herbal murni itu nggak ada efek sampingnya," lanjut Prof Sumali yang juga merupakan Guru Besar di Fakultas Farmasi FMIPA UI.
Prof Sumali juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya produsen jamu yang menjanjikan bisa menyembuhkan penyakit pasien dengan cepat bila mengonsumsi jamu produksinya.
"Kalau ada yang bilang minum jamu 2 hari langsung sembuh itu jangan mudah percaya. Harus diperiksa apakah ada campuran bahan kimia atau tidak, karena khasiat herbal biasanya lebih lambat dibandingkan obat kimia," tutur Prof Sumali.
Prof Sumali juga menjelaskan bahwa di Indonesia ada 3 macam obat herbal yang beredar, yaitu:
1. Jamu Adalah obat asli Indonesia yang ramuan, cara pembuatan, cara penggunaan, pembuktian khasiat dan keamanannya berdasarkan pengetahuan tradisional. Pembuktian khasiat jamu hanya berdasarkan pengalaman atau data empiris bukan uji ilmiah dan uji klinis.
2. Herbal terstandar Adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinis (pengujian terhadap hewan percobaan) tapi belum uji klinis atau pada manusia meski bahan bakunya telah distandarisasi.
3. Fitofarmaka Adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinis dan klinis, dimana bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. Produk fitofarmaka dapat disetarakan dengan obat moderen dan sudah dapat diresepkan oleh dokter.
Agar tidak mudah tertipu produsen jamu palsu, Prof Sumali memberikan beberapa tips memilih jamu, yaitu:
1. Periksa nomor pendaftaran BPOM "Dilihat dulu nomor registrasi dan logo 'jamu' dari BPOM. Kalau sudah terdaftar, berarti komposisinya sudah diuji oleh BPOM," jelas Prof Sumali.
2. Periksa kemasan jamu "Periksa kemasan ada yang mencurigakan atau tidak, misalnya terdapat salah ketik atau ada yang dirasakan aneh," lanjut Prof Sumali.
3. Periksa isinya "Herbal yang sudah diolah biasanya berbentuk serbuk, potongan-potongan herbal, kapsul atau sirup. Yang sudah dalam bentuk modern biasanya lebih terpercaya.
4. Tidak membeli di sembarangan tempat "Untuk menyimpanannya, herbal harus dihindari dari sinar matahari langsung, kelembaban harus dijaga tetap kering karena herbal sangat dipengaruhi kadar air. Untuk herbal sebaiknya di beli di toko khusus obat herbal atau apotik, jangan di warung-warung sembarangan. Biasanya herbal yang dicampur obat sintetis sering masuk ke warung-warung gitu," jelas Prof Sumali.
5. Beri jeda bila minum jamu bersamaan dengan obat medis Konsumsi obat-obat herbal sebaiknya diberi jeda dengan obat medis, agar efek obat tidak saling meniadakan misalnya diberi jeda 1 jam. "Biasanya obat medis dulu, karena efeknya lebih cepat, baru obat herbal," jelas Prof Sumali.
Namun, dalam artikel detikHealth, dr. Dante Saksono, SpPD, PhD, dari RS Cipto Mangunkusumo mengakui memang orang yang memiliki bakat ginjal harus lebih berhati-hati mengonsumsi jamu.
Maka itu jika ingin minum jamu harus yang sudah benar-benar teruji secara klinis. Minum jamu bisa berbahaya jika tidak disertai dengan banyak minum air. Air putih ini membantu cairan yang disaring ke ginjal tidak terlalu pekat sehingga tidak mengganggu kerja ginjal.
Menurut dr Dante, minum sembarangan jamu tanpa mengetahui komposisinya bisa berbahaya. Karena materi-materi penyusunnya belum dapat diidentifikasikan secara pasti. Sehingga belum dapat dipastikan apakah material yang terkandung di dalamnya aman untuk ginjal.
"Saya tidak menganjurkan pasien yang sakit untuk minum jamu," ujar dr. Dante Saksono, SpPD, PhD, dari RS Cipto Mangunkusumo saat dihubungi detikHealth.
Orang dengan penyakit ginjal, lanjut dr. Dante, sangat tidak disarankan minum jamu. Karena apabila telah terjadi kerusakan pada ginjal maka minum jamu akan meningkatkan risiko dan mengakibatkan pasien tidak bisa bertahan lebih lama.
Di Indonesia baru ada empat rumah sakit yang telah terakreditasi oleh Departemen Kesehatan dapat memberikan resep obat herbal atau Complementary Alternative Medicine (CAM), yaitu RS Kanker Dharmais Jakarta, RS Persahabatan Jakarta, RSUD Dr Soetomo Surabaya dan RS Kandou Manado.
sumber : www.detik.com |
|
Last Updated on Friday, 25 May 2012 21:40 |
|