|
Penggunaan tanaman obat sebagai obat, sudah dilakukan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, sehingga tanaman obat dikenal sebagai obat nenek moyang.
Berdasarkan kenyataan itu maka penggunaan tanaman obat sudah merupakan bagian dari tradisi masyarakat tradisional kita.
Tanaman obat yang sebagian besar tanaman hutan itu secara bertahap “didomestikasi” menjadi tanaman pekarangan, tanaman pagar dan tanaman pinggir kebun.
Tumbuhan hasil domestikasi tumbuhan hutan ini secara turun temurun merupakan obat masyarakat kita.
Sejak masuknya pengobatan modern di Indonesia maka secara bertahap dan sistematis penggunaan tanaman obat sebagai obat mulai ditinggalkan.
Tumbuhan obat yang sudah turun temurun dipelihara di sudut-sudut kebun mulai terlantar, dilupakan dan dibersihkan.
Sebagai akibatnya pada saat ini masyarakat pada umumnya tidak mengenal lagi penggunaan tanaman obat sebagai obat. Konsep umum tentang obat adalah barang yang dijual di apotik.
Tetapi kecenderungan di seluruh dunia saat ini adalah kembali ke alam termasuk di bidang obat-obatan. Bisa dikatakan kecenderungan kembali ke obat tradisional tanaman obat.
Beberapa alasan yang menjadi dasar kembali kepada obat tradisional tanaman obat antara lain yaitu adanya kelemahan obat modern / obat kimia menyangkut adanya efek samping yang merugikan, sering kurang efektif untuk penyakit tertentu dan harga yang mahal karena faktor impor.
Sementara pada sisi lain terdapat kelebihan tanaman obat yaitu efek samping tidak ada jika penggunaan secara benar, sering lebih efektif, harganya murah dan dapat ditanam sendiri serta tidak perlu bantuan medis.
Berdasarkan pertimbangan diatas maka tanaman obat sudah diterima sebagai obat dan bahkan secara resmi dianjurkan untuk digunakan oleh praktisi di dunia kesehatan.
Maka berkembanglah istilah yang sering kita dengar yaitu :
-
herbal
-
obat herbal
-
ramuan tradisional
-
tanaman obat
-
obat alami
-
dll
Akhir kata, selamat datang di dunia herbal, back to natural herbs ... |